Headline

Teheran Sindir Donald Trump: Ancaman Berulang Disebut Bukti Amunisi Melemah

Juru bicara Komite Keamanan Nasional Dewan Syura, Ibrahim Rezaei

ACEHANTARA.COM | Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah pernyataan keras Presiden AS, Donald Trump, yang berulang kali melontarkan ancaman terhadap Teheran.

Juru bicara Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran (Dewan Syura), Ibrahim Rezaei, menilai pernyataan Trump justru mencerminkan kelemahan Washington. Menurut dia, intensitas ancaman yang terus diulang menunjukkan keterbatasan kapasitas militer Amerika.

“Jeritan Trump yang berulang-ulang dan keras menunjukkan bahwa persediaan amunisi Amerika sudah kosong,” ujar Rezaei dalam pernyataan yang dirilis, Selasa (21/4/2026).

Pernyataan tersebut muncul di tengah eskalasi konflik yang terus berkembang. Dalam beberapa pekan terakhir, Trump diketahui berulang kali mengancam akan menyerang infrastruktur vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, jika Teheran tidak memenuhi tuntutan AS, terutama terkait pembukaan Selat Hormuz.

Bahkan, laporan lembaga internasional menyebut ancaman tersebut mencakup kemungkinan penghancuran besar-besaran terhadap fasilitas sipil, yang memicu kekhawatiran global terkait potensi pelanggaran hukum humaniter internasional.

Di sisi lain, situasi di lapangan juga semakin tegang. Amerika Serikat telah meningkatkan tekanan militer, termasuk pengerahan pasukan tambahan dan penerapan blokade laut terhadap Iran. Sementara itu, insiden penyitaan kapal berbendera Iran oleh militer AS di Teluk Oman semakin memperkeruh hubungan kedua negara.

Iran merespons langkah tersebut dengan kecaman keras dan ancaman balasan, serta mempertimbangkan keluar dari jalur perundingan damai. Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran akan konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Hingga kini, belum ada tanda-tanda deeskalasi yang signifikan. Kedua pihak masih mempertahankan posisi keras, sementara komunitas internasional terus mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version