Pemerintah Aceh: Perjuangan Teungku Chik Pante Geulima Layak Diakui Negara
ACEHANTARA.COM | Banda Aceh — Pemerintah Aceh melalui Dinas Sosial Aceh mulai mendorong serius pengusulan Teungku Chik Pante Geulima sebagai Pahlawan Nasional. Sosok ulama kharismatik, panglima perang, guru, sekaligus sastrawan itu dinilai memiliki kontribusi besar dalam perjuangan rakyat Aceh melawan kolonialisme Belanda pada abad ke-19.
Dorongan tersebut mengemuka dalam Seminar Provinsi Usulan Pahlawan Nasional Teungku Chik Pante Geulima yang digelar di Aula Dinas Sosial Aceh, Rabu, 20 Mei 2026. Seminar menghadirkan unsur pemerintah, akademisi, budayawan, tokoh masyarakat, hingga ahli waris untuk mengupas rekam jejak perjuangan tokoh yang gugur syahid pada 1901 itu.

Teungku Chik Pante Geulima dikenal bukan hanya memimpin perlawanan bersenjata, tetapi juga membangun kekuatan moral dan spiritual rakyat Aceh melalui pendidikan agama. Di tengah agresi kolonial Belanda, ia menjadi figur pemersatu yang menggerakkan masyarakat pesisir hingga pedalaman untuk mempertahankan tanah air.

Pengaruhnya yang besar di tengah masyarakat membuat namanya tetap hidup dalam ingatan kolektif rakyat Aceh. Keteguhan sikap, keberanian, serta pengorbanannya dalam perang Aceh dinilai memenuhi jejak historis sebagai tokoh nasional yang berjuang mempertahankan kedaulatan bangsa.
Salah satu ahli waris Teungku Chik Pante Geulima, mantan Gubernur Aceh, Mustafa Abubakar, menyebut pengusulan gelar Pahlawan Nasional merupakan bentuk penghormatan atas perjuangan besar yang diwariskan kepada rakyat Aceh dan Indonesia.
“Mengenang perjuangannya yang begitu gigih dalam memimpin dan melawan penjajahan Belanda hingga syahid pada tahun 1901, maka sudah sepatutnya Pemerintah Aceh melalui instansi terkait mengusulkan Teungku Chik Pante Geulima sebagai salah satu Pahlawan Nasional dari Aceh,” kata Mustafa.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Sosial Aceh, Michael Octaviano, S.STP menegaskan pengusulan gelar Pahlawan Nasional bukan sekadar agenda administratif, melainkan upaya merawat ingatan sejarah Aceh yang selama ini banyak tersimpan dalam manuskrip, hikayat, dan cerita lisan masyarakat.

Menurut Michael, Teungku Chik Pante Geulima merupakan figur yang memadukan nilai keislaman, kepemimpinan, pendidikan, dan perjuangan rakyat dalam satu sosok yang utuh. “Aceh memiliki banyak tokoh besar yang kontribusinya terhadap bangsa belum sepenuhnya tercatat dalam sejarah nasional. Seminar ini menjadi langkah penting untuk memperkuat kajian akademik dan melengkapi bukti historis agar perjuangan beliau mendapat pengakuan negara,” ujarnya.
Ia juga menilai pengusulan tersebut penting sebagai sarana pendidikan sejarah bagi generasi muda Aceh. Di tengah arus modernisasi, nilai keberanian, integritas, dan kecintaan terhadap agama serta tanah air yang diwariskan Teungku Chik Pante Geulima dinilai relevan untuk terus dikenalkan.
Pemerintah Aceh bersama akademisi dan masyarakat kini didorong memperkuat dokumen sejarah, kajian ilmiah, serta bukti perjuangan guna memenuhi syarat pengusulan gelar Pahlawan Nasional ke pemerintah pusat. Bagi Aceh, pengakuan itu bukan sekadar penghargaan simbolik, melainkan penegasan bahwa sejarah perjuangan daerah turut membentuk sejarah Indonesia.



