Gelombang Panas Ancam Indonesia Mulai April, Suhu Diprediksi Melonjak di Atas Normal
ACEHANTARA.COM | BANDA ACEH – Negara-negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, berpotensi mengalami gelombang panas dengan suhu lebih tinggi dari biasanya mulai April 2026. Berdasarkan prakiraan musiman terbaru dari ASEAN Specialized Meteorological Centre (ASMC), suhu di sebagian besar wilayah maritim dan daratan Asia Tenggara diperkirakan berada di atas rata-rata selama periode Maret–April–Mei (MAM) 2026.
ASMC memproyeksikan peluang sebesar 80 hingga 100 persen terjadinya suhu di atas normal di wilayah Indonesia dan Malaysia dalam tiga bulan ke depan. Kondisi panas ini diperkirakan akan lebih dahulu dirasakan di kedua negara tersebut sebelum meluas ke sebagian besar daratan Asia Tenggara dalam dua bulan berikutnya. Wilayah Thailand dan Vietnam bagian utara juga diperkirakan terdampak, sementara sebagian kecil kawasan seperti Vietnam tenggara, Kamboja, dan beberapa wilayah Filipina diprediksi masih berada pada kisaran suhu normal.
“Untuk periode Maret–April–Mei 2026, suhu di atas normal diperkirakan terjadi di sebagian besar wilayah Kepulauan Maritim,” demikian pernyataan ASMC dalam laman resminya. Mayoritas model iklim yang digunakan juga menunjukkan kecenderungan suhu di atas normal sebagai kondisi paling mungkin terjadi di kawasan ini.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyampaikan bahwa musim kemarau di Indonesia diperkirakan datang lebih awal. Percepatan ini dipicu oleh berakhirnya fenomena La Niña lemah pada Februari 2026, yang kini telah bergeser ke kondisi netral dan berpotensi berkembang menuju El Niño pada pertengahan tahun.
Pemantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan indeks El Niño–Southern Oscillation (ENSO) berada pada angka -0,28 atau dalam fase netral, dan diperkirakan bertahan hingga Juni 2026. Meski demikian, peluang munculnya El Niño kategori lemah hingga moderat mulai meningkat pada semester kedua tahun ini, dengan probabilitas sekitar 50–60 persen. Adapun kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap berada pada fase netral sepanjang tahun.
Di sisi lain, gelombang panas yang diperkirakan terjadi juga berpotensi meningkatkan permintaan energi, khususnya bahan bakar, serta memberi tekanan pada jaringan listrik di kawasan. Laporan Bloomberg yang dikutip South China Morning Post menyebutkan kondisi ini terjadi bersamaan dengan terganggunya pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah, yang berdampak pada distribusi dan produksi energi.
Gangguan tersebut memicu lonjakan harga energi dan berpotensi memengaruhi pembangkit listrik di Asia Tenggara yang masih bergantung pada bahan bakar fosil. Sejumlah negara di kawasan, seperti Vietnam dan Thailand, mulai mencari pasokan gas alam cair (LNG) tambahan di pasar spot untuk memenuhi kebutuhan energi pada Maret dan April.
Selain itu, Singapura diperkirakan menghadapi kenaikan harga listrik pada kuartal kedua tahun ini seiring tingginya ketergantungan pada impor LNG. Dalam sepekan terakhir, harga spot LNG di Asia dilaporkan melonjak hingga dua kali lipat dan masih berada pada level tinggi, sehingga negara-negara di Asia Tenggara harus bersaing dengan pembeli dari kawasan lain untuk mendapatkan pasokan yang terbatas.
