“Memek” Bebas Dinikmati di Simeulue, Kuliner Khasyang Sarat Sejarah dan Kini Jadi Warisan Budaya
ACEHANTARA.COM | SIMEULUE – Nama “memek” mungkin mengundang tanya, bahkan kerap disalahartikan karena berkonotasi vulgar dalam bahasa slang. Namun di Pulau Simeulue, istilah itu justru merujuk pada salah satu kuliner tradisional yang telah diwariskan turun-temurun. Senin, 13 April 2026.
Memek merupakan makanan khas berbentuk menyerupai bubur yang terbuat dari beras ketan dan pisang. Kudapan ini memiliki cita rasa khas perpaduan gurih, manis, dan tekstur lembut yang membuatnya digemari masyarakat setempat.

Secara historis, memek diyakini telah ada sejak masa Pendudukan Jepang di Indonesia. Saat itu, warga Simeulue berupaya menyembunyikan beras dari tentara Jepang dengan tidak memasaknya, karena asap dapur dapat menarik perhatian. Sebagai gantinya, beras ketan dikunyah bersama pisang. Dari proses mengunyah inilah muncul istilah “mamemek” dalam bahasa Devayan, yang berarti mengunyah, lalu berkembang menjadi “memek” seiring perubahan cara pengolahan.

Kini, proses pembuatannya jauh lebih sederhana. Beras ketan disangrai terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan pisang yang ditumbuk kasar, santan, gula, dan sedikit garam. Proses ini memakan waktu sekitar satu jam hingga menghasilkan tekstur lembut yang khas.
Terdapat dua jenis memek yang dikenal masyarakat, yakni memek basah dan memek kering. Memek basah menggunakan campuran santan sehingga lebih lembut, sementara memek kering disajikan dengan tambahan kelapa parut dan gula, menghasilkan tekstur lebih padat.
Keunikan dan nilai historisnya membuat memek ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2019. Di Simeulue, makanan ini tidak hanya dikonsumsi sehari-hari, tetapi juga menjadi hidangan untuk menyambut tamu penting serta sajian dalam berbagai acara adat.
Selain itu, memek juga dikenal sebagai bekal praktis bagi masyarakat yang bepergian antarpulau. Daya tahannya dan cara penyajian yang mudah menjadikannya pilihan ideal dalam perjalanan laut.
Popularitas memek kini meluas hingga ke Banda Aceh, salah satunya melalui Anjungan Simeulue pada ajang Pekan Kebudayaan Aceh. Nama yang unik kerap memancing rasa penasaran pengunjung, yang kemudian tertarik mencicipi cita rasa autentik kuliner tersebut.
Di balik namanya yang kontroversial, memek justru menyimpan kisah ketahanan, kreativitas, dan identitas masyarakat Simeulue yang tetap lestari hingga kini.



