Daerah

Jubir Darat Aceh Apresiasi Peran Ermiadi Konsolidasikan Tim Pemenangan Mualem–Dek Fadh

Foto: Jubir Darat Aceh Mualem-Dek Fadh bersama Ermiadi (Bang Er).

ACEHANTARA.COM | BANDA ACEH — Jubir Darat Aceh menilai langkah Ermiadi Abdurrahman menginisiasi silaturahmi antara Muzakir Manaf dan Fadhlullah bersama tim pemenangan bukan sekadar seremoni politik. Agenda halalbihalal di Anjong Mon Mata, Rabu (15/4/2026), dibaca sebagai manuver konsolidasi untuk menjaga kohesi basis dukungan di tengah tanda-tanda pelonggaran soliditas relawan setelah lebih dari satu tahun pemerintahan berjalan.

Ketua Jubir Darat Aceh, Musliadi, menegaskan pertemuan itu memiliki bobot strategis. Ia menyebut, tanpa konsolidasi yang terukur, kekuatan politik yang mengantarkan kemenangan berisiko terfragmentasi dan kehilangan arah.

“Ini bukan temu kangen. Ini penguatan barisan. Bang Er membuka kembali jalur komunikasi langsung antara pemimpin dan basisnya sesuatu yang kerap terputus pasca kekuasaan diraih. Saat ini kepemimpinan Mualem–Dek Fadh sudah memasuki 1 tahun 2 bulan, dan ujian kohesi mulai terasa,” ujarnya.

Menurut Musliadi, relawan tidak boleh lagi ditempatkan sebatas instrumen elektoral. Mereka, kata dia, harus ditransformasikan menjadi mitra kritis yang mengawal arah kebijakan. “Relawan harus naik kelas dari mesin politik menjadi kekuatan kontrol sosial yang memastikan program pemerintah tepat sasaran,” katanya.

Sekretaris Jubir Darat Aceh, Dedi Novrizal, S.Pd., M.Pd membaca pertemuan itu sebagai sinyal politik yang lebih luas: tuntutan terhadap pemerintahan Mualem–Dek Fadh untuk lebih inklusif dalam merangkul basisnya sendiri. Ia menilai masih banyak sumber daya relawan yang belum dimobilisasi secara profesional.

“Kemenangan tidak boleh berhenti pada euforia. Harus ada distribusi peran yang berbasis kapasitas. Relawan yang kompeten jangan dibiarkan di pinggir gelanggang,” ujarnya.

Dedi juga mengingatkan potensi jarak antara pemerintah dan basis sosial-politik jika komunikasi tidak dirawat secara sistematis. “Loyalitas yang dibangun selama Pilkada harus dibalas dengan kebijakan konkret. Jika tidak, jarak itu akan berubah menjadi akumulasi kekecewaan. Konsolidasi ini tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Jubir Darat Aceh turut menyampaikan apresiasi kepada M. Nasir Syamaun yang dinilai konsisten membuka ruang dialog dengan relawan. Peran Sekda disebut krusial sebagai penghubung antara aspirasi basis pendukung dan proses pengambilan kebijakan di pemerintahan.

“Kami juga mengapresiasi komitmen Pak Sekda yang tetap memberi ruang komunikasi. Ini penting agar suara relawan tidak terputus di tingkat implementasi kebijakan,” ujar Sekretaris Jubir Darat itu.

Sejumlah relawan menyambut positif forum tersebut, namun menuntut hasil konkret. Konsolidasi dinilai tak boleh berhenti pada simbol, melainkan harus berujung pada pelibatan nyata dalam pembangunan serta kesinambungan komunikasi yang terukur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version