Iran Umumkan Selat Hormuz Tutup Lagi, Tak Ada Ampun Buat AS

Foto: Data pelacakan kapal dari MarineTraffic menunjukkan lalu lintas minimal di sepanjang Selat Hormuz dari hari Senin (13 April) hingga Selasa (14 April), karena militer AS memulai blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. (Tangkapan Layar Video Reuters/MARINE TRAFFIC)

Situasi di Selat Hormuz kembali memanas hanya dalam hitungan jam setelah sebelumnya diumumkan terbuka untuk pelayaran internasional. Pemerintah Iran menyatakan jalur strategis tersebut kini kembali berada dalam “kondisi sebelumnya” menyusul berlanjutnya blokade angkatan laut oleh Amerika Serikat.

Dikutip dari The Guardian, langkah terbaru ini diambil Teheran sebagai respons atas perselisihan yang belum mereda dengan Washington, khususnya terkait pembatasan akses kapal-kapal Iran ke sejumlah pelabuhan.

Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ibrahim Azizi, menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan konsekuensi dari sikap AS yang dinilai melanggar kesepakatan. “Kami telah memperingatkan, namun diabaikan. Kini, Selat Hormuz kembali ke situasi sebelumnya,” ujarnya dalam pernyataan tertanggal 18 April 2026.

Pernyataan senada disampaikan komando operasional militer Iran, Khatam al-Anbiya, yang menyebut blokade AS sebagai bentuk “pembajakan”. Mereka menegaskan bahwa jalur pelayaran tersebut kini berada di bawah pengawasan ketat angkatan bersenjata Iran.

“Selama kebebasan navigasi bagi kapal-kapal Iran belum sepenuhnya dipulihkan—baik untuk keberangkatan maupun kepulangan—maka Selat Hormuz akan tetap berada dalam kendali ketat,” demikian pernyataan resmi yang dikutip media Iran.

Perkembangan ini menambah ketidakpastian terhadap status salah satu jalur energi paling vital dunia, yang sebelumnya mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak global.

Sehari sebelumnya, Jumat (17/4), Iran bersama Presiden AS saat itu, Donald Trump, sempat mengumumkan bahwa Selat Hormuz dibuka kembali untuk pelayaran. Namun, Washington menegaskan bahwa blokade terhadap Iran tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan baru, termasuk terkait program nuklir Teheran.

Kondisi yang berubah cepat ini memperlihatkan rapuhnya stabilitas di kawasan Teluk, sekaligus meningkatkan kekhawatiran pasar global terhadap potensi gangguan distribusi energi dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *