Nasional

Empat Hari Terperangkap di Gayo: HT Ibrahim Minta Banjir Aceh Ditetapkan sebagai Bencana Nasional

Acehantara.com | Bener Meriah – Banjir besar dan longsor beruntun di dataran tinggi Gayo menjadikan Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah memasuki fase kritis. Ribuan warga kini bertahan tanpa makanan, tanpa air bersih, dan tanpa akses medis, sementara seluruh jalur darat lumpuh total akibat jembatan putus dan longsor besar di puluhan titik.

Anggota DPR RI, HT Ibrahim, menjadi saksi langsung parahnya bencana setelah ia terisolasi selama empat hari empat malam sejak 26 November 2025 di wilayah Bener Meriah yang terputus total.

“Ini bukan sekadar darurat, ini kondisi kritis yang mengancam nyawa. Anak-anak menangis kelaparan, warga antre hanya untuk seteguk air bersih, dan banyak pengungsian mulai kehabisan beras. Situasinya sangat memilukan,” ujar HT Ibrahim, Sabtu (29/11/2025).

Sejumlah jembatan utama di Bener Meriah dan Aceh Tengah ambruk dihantam banjir, sementara longsor menutup semua jalur keluar–masuk. Ratusan kendaraan bantuan terhenti di tengah jalan dan tidak bisa melanjutkan perjalanan. Warga di pedalaman kini benar-benar terputus dari dunia luar.

“Tidak ada jalur darat yang tersisa. Gayo terkepung dari semua arah. Jika tidak segera diatasi, potensi korban kelaparan sangat tinggi,” tegasnya.

Informasi yang dihimpun Acehantara.com menyebutkan sejumlah desa di dataran tinggi Gayo telah kehabisan bahan pangan. Banyak warga kini hanya memasak air panas atau memanfaatkan daun hutan untuk bertahan hidup. Krisis air bersih semakin parah karena saluran pipa rusak tertimbun material longsor.

Dengan darat tidak lagi memungkinkan, HT Ibrahim mendesak Pemerintah Pusat mengerahkan helikopter BNPB, TNI AU, Basarnas, dan Polri untuk membuka jalur udara darurat guna membawa logistik dan mengevakuasi warga.

“Bener Meriah dan Aceh Tengah harus disuplai lewat udara. Setiap jam yang hilang berarti nyawa warga dipertaruhkan,” ungkapnya.

Desakan: Tetapkan Bencana Nasional, Jangan Menunggu Korban Jatuh

HT Ibrahim meminta Pemerintah Pusat segera menetapkan status Bencana Nasional, mengingat cakupan kerusakan yang melampaui kapasitas pemerintah daerah serta dampak lintas kabupaten.

“Ini tragedi kemanusiaan, bukan musibah lokal. Pemerintah Pusat harus turun tangan penuh sekarang. Bukan besok, bukan lusa,” tegasnya.

Hingga Sabtu sore, data kerusakan terus bertambah: rumah hanyut, fasilitas pendidikan rusak berat, jaringan listrik padam, dan ribuan hektare kebun kopi Gayo yang menjadi sumber ekonomi masyarakat hilang disapu arus deras.

BMKG memperingatkan potensi cuaca ekstrem masih tinggi dalam beberapa hari ke depan.

Bener Meriah dan Aceh Tengah kini menunggu keputusan cepat pemerintah untuk menyelamatkan ribuan jiwa yang masih bertahan di tengah bencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version