Headline

Tiga Hari Terjebak Banjir, Tiga Hari Menolong: Kisah Kemanusiaan Rombongan Pemerintah Aceh di Lhoksukon

Rombongan Pemerintah Aceh dan Dinsos Aceh terjebak banjir di wilayah Aceh Utara selama 3 hari.

Acehantara.com | Aceh Utara – Di tengah hamparan banjir yang menelan rumah, harapan, dan kehidupan warga Aceh Utara, terselip sebuah kisah kemanusiaan yang menggetarkan hati. Kisah tentang rombongan Pemerintah Aceh yang bukan hanya menyalurkan bantuan tetapi ikut merasakan langsung ketakutan, keterjebakan, dan perjuangan yang dialami masyarakat.

Dipimpin Istri Gubernur Aceh, Ny. Marlina Muzakir, dan Plt. Kepala Dinas Sosial Aceh, Chaidir, S.E., M.M., rombongan itu awalnya bertolak untuk membantu korban banjir. Namun alam berbicara lebih keras. Sungai meluap. Jalan nasional tenggelam. Komunikasi putus. Dan dalam sekejap, mereka menjadi bagian dari ribuan warga yang terjebak dalam gelapnya musibah.

Selama tiga hari tiga malam, rombongan tidak bisa keluar. Tapi justru dalam keterjebakan itulah, mereka menemukan keberanian dan panggilan moral untuk tetap menolong.

“Kami terjebak, tapi warga jauh lebih menderita.” ujar Marlina Muzakir

Malam pertama, ketika air terus naik hingga setinggi dada orang dewasa, Marlina berdiri di depan SPBU Cempeudak yang menjadi tempat bertahan hidup dadakan. Suara tangis anak-anak terdengar dari kejauhan. Di sisi lain, ibu-ibu memeluk erat balitanya yang menggigil. Sementara para lansia menatap kosong rumah mereka yang perlahan tenggelam.

Dengan suara pelan namun tegas, Marlina berkata:

“Kami memang ikut terjebak. Tapi di luar sana, banyak keluarga tidak makan. Anak-anak kehausan. Lansia terperangkap. Kami tidak boleh hanya menunggu. Kami harus turun menolong.”

Itu bukan sekadar pernyataan. Itu menjadi pegangan moral di tengah malam yang gelap dan derasnya hujan yang tak pernah berhenti.

Sinyal telepon hilang. Tapi laporan darurat datang melalui warga yang nekat berjalan menembus arus, mencari siapa saja yang bisa mendengar.

“Bu, tolong. Anak-anak sudah dua hari tidak makan.”

“Sumur kami habis tenggelam. Tak ada setetes air bersih.”

“Ada nenek-nenek yang tak bisa bernapas, rumahnya sudah hampir tenggelam.”

Setiap laporan adalah pilu. Setiap kedatangan warga adalah teriakan harapan terakhir.

Ketika kabar datang bahwa seorang lansia di Gampong Cubrek mengalami sesak napas, Marlina Muzakir dan Chaidir sepakat: mereka harus turun langsung.

Saat itu, dengan perahu karet pinjaman Lapas, mereka menembus arus yang deras. Hujan mencambuk dari segala arah. Suara warga meminta tolong menggema di udara yang penuh kecemasan.

Di tengah arus yang mengancam nyawa, tim menemukan sang lansia. Wajahnya pucat, napasnya tersengal.

“Tabung oksigennya tertinggal di dalam rumah!” teriak seorang warga.

Chaidir dan tim kembali masuk ke rumah yang sudah hampir hanyut. Dengan susah payah, tabung oksigen itu berhasil dibawa keluar.

“Saat melihat kondisi ibu itu, saya langsung teringat orang tua saya. Tidak ada pilihan selain menyelamatkannya,” kata Marlina dengan suara bergetar.

Selama dua hari, SPBU Cempeudak berubah menjadi penampungan. Cahaya lampu tinggal kenangan. Uang tidak lagi bernilai. Yang tersisa hanyalah kemanusiaan.

Pemilik SPBU, Zulkifli yang akrab disapa Om Zul, menjadi pahlawan tak bernama.

Ia membuka dapur kecil nya untuk menjamu rombongan pemerintah, Mi instan, telur rebus, air panas di situlah harapan bertahan hidup.

“Ambil saja, ini musibah kita bersama,” ucapnya lirih.

Rombongan membagikan makanan seadanya, menggendong anak-anak ke tempat aman, dan mencatat warga yang paling membutuhkan.

Dalam kondisi sempit dan berbahaya itu, Chaidir tidak berhenti bekerja.

“Kami ikut terjebak sama seperti warga. Tapi pekerjaan kami tidak boleh berhenti. Selama masih bisa bergerak, kami akan bantu,” tegasnya.

Ia memimpin pendataan warga rentan, mengatur pembagian makanan darurat, dan terus berkoordinasi agar bantuan tambahan dapat menembus akses yang terputus.

Pada hari ketiga, ketika banjir sedikit surut, rombongan memutuskan mengarungi air menggunakan truk tangki CPU dari wilayah Panten, satu-satunya kendaraan yang masih sanggup melawan derasnya arus.

Banjir mengibas ban mobil setiap menit. Namun rombongan berhasil keluar dan tiba di Lhokseumawe pada malam hari.

Di sepanjang perjalanan, terlihat pemandangan memilukan, rumah-rumah tenggelam, ternak hanyut, anak-anak digendong melawan arus, warga berdiri di atap rumah menunggu keajaiban.

Hingga pada Jum’at malam ini , data sementara diperkirakan mencatat: 120.000 warga mengungsi, 41 orang meninggal dunia, ratusan kawasan terisolasi, air minum dan makanan menjadi kebutuhan paling kritis.

Kisah tiga hari ini bukan hanya tentang rombongan pemerintah yang terjebak. Ini adalah kisah tentang keberanian di tengah ketakutan. Tentang kepedulian di tengah keterbatasan. Tentang manusia yang menolong manusia lain, meski dirinya sendiri dalam bahaya.

Dan dalam banjir besar yang menelan sebagian Aceh Utara, satu hal menjadi jelas harapan, yakni tidak tenggelam. Masih ada tangan-tangan yang menolong, bahkan ketika mereka sendiri sedang berjuang bertahan hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *