Teuku Ibrahim, Anomali Politik di Era Viralitas
Oleh: Dr. Usman Lamreung (Pengamat kebijakan publik dan politik)
Acehantara.com | Banda Aceh – Di tengah politik yang kian dipenuhi figur instan dan pencitraan media sosial, Teuku Ibrahim tampil sebagai anomali. Ia bukan politisi yang lahir dari sorotan kamera atau kontroversi, melainkan dari proses panjang, kerja organisasi, dan konsistensi di akar rumput. Kariernya menegaskan bahwa politik bukan sekadar soal viralitas, tetapi tentang daya tahan, jaringan, dan kemampuan menjaga kepercayaan dalam jangka panjang.

Jejak politiknya terbangun secara bertahap. Berawal dari latar belakang teknis konstruksi, ia aktif di organisasi sosial sebelum membangun basis politik di Aceh Besar. Ia memulai karier dari DPRK, kemudian melangkah ke DPRA, memimpin fraksi, hingga menembus DPR RI. Jalur “naik tangga” seperti ini kian jarang ditempuh di tengah tren politik yang serba cepat dan instan.
Peran sentralnya terlihat di Partai Demokrat. Ia bukan sekadar kader, melainkan organisator yang membangun struktur partai dari tingkat bawah. Pernah menjabat Sekretaris DPC, Ketua DPC, hingga pengurus DPD provinsi, ia memandang partai sebagai institusi, bukan sekadar kendaraan politik. Dalam konteks Aceh, di mana partai nasional kerap menghadapi tantangan politik lokal berbasis identitas dan sejarah, stabilitas Demokrat dinilai tak lepas dari figur-figur organisator seperti dirinya.
Gaya politiknya cenderung tenang dan tidak konfrontatif. Ia menghindari retorika sensasional, memilih pendekatan kerja senyap dan konsisten. Dalam perspektif ilmu politik, ia merepresentasikan tipe politisi penyeimbang—yang menjaga stabilitas, bukan menciptakan kegaduhan.
Di luar arena elektoral, kiprahnya juga terlihat di bidang pendidikan. Ia menjabat Ketua Komite SMPN 6 Banda Aceh dan Ketua Komite Lab School USK, dengan fokus pada peningkatan mutu dan fasilitas belajar. Peran ini memang tidak menghadirkan panggung politik, tetapi membangun kepercayaan sosial yang lebih tahan lama daripada popularitas sesaat.
Keterlibatannya meluas ke berbagai organisasi seperti Kadin, APINDO, PMI, dan KONI. Basis kekuatannya tidak semata pada suara pemilih, melainkan jaringan sosial yang terbentuk dari dunia usaha, komunitas, hingga organisasi kemanusiaan. Modal sosial semacam ini menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas karier politiknya.
Meski demikian, tantangan ke depan tidak ringan. Politik bergerak cepat dan sangat dipengaruhi persepsi publik serta media. Politisi bertipe organisator kerap tertinggal dari figur populis yang piawai membangun narasi. Tanpa adaptasi terhadap komunikasi politik modern, kekuatan struktural saja tidak lagi memadai.
Pada akhirnya, perjalanan Teuku Ibrahim memberi pelajaran bahwa politik bukan tentang siapa yang paling gaduh, melainkan siapa yang paling konsisten bekerja. Di era serba instan, figur seperti ini mengingatkan bahwa yang bertahan lama bukan yang paling ramai, tetapi yang paling teguh menjaga kepercayaan.




