ACEHANTARA.COM | BANDA ACEH — Perbincangan mengenai Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem kembali ramai di media sosial. Sorotan publik tidak hanya menyangkut aktivitasnya sebagai kepala daerah, tetapi juga mulai merambah kehidupan pribadinya. Beragam komentar, dugaan, hingga penilaian bermunculan tanpa selalu disertai informasi yang utuh mengenai Gubernur Aceh talak tiga istrinya yang saat ini menduduki Komisi III DPR Aceh. Senin (14/9/2026).
Anggota DPRK Nagan Raya, Teuku Cut Man, meminta masyarakat Aceh menyikapi fenomena tersebut dengan kepala dingin. Menurut dia, karakter orang Aceh yang menjunjung tinggi adab, marwah, dan kehormatan sesama harus tetap tercermin dalam cara menyampaikan pendapat, termasuk di ruang digital.
“Orang Aceh itu dikenal dengan adabnya. Dalam Islam juga kita diajarkan untuk tabayun, menjaga lisan dan tidak mudah menuduh. Jangan karena sesuatu menjadi viral, kita kemudian merasa berhak menghakimi kehidupan pribadi orang lain,” kata Cut Man.
Ia mengatakan, berbagai spekulasi mengenai kehidupan pribadi Mualem sebaiknya tidak menjadi bahan perdebatan yang berujung pada fitnah. Jika terdapat persoalan pribadi, kata dia, hal tersebut semestinya ditempatkan sebagai ranah keluarga, selama tidak berkaitan dengan pelanggaran hukum atau tugas dan tanggung jawab sebagai pejabat publik.
Cut Man juga mengingatkan bahwa dalam ajaran Islam terdapat perkara-perkara yang dibolehkan agama, sehingga masyarakat tidak semestinya mencela seseorang hanya berdasarkan prasangka. Namun, ia menekankan bahwa pembahasan mengenai hukum agama harus dilakukan dengan ilmu dan tidak dijadikan alasan untuk merendahkan atau menyakiti pihak lain.
“Kalau sesuatu itu menyangkut ranah pribadi dan dibenarkan oleh agama, jangan kita jadikan bahan untuk mencela. Tetapi jangan pula kita membenarkan sesuatu yang belum jelas. Prinsipnya sederhana: tabayun, jaga adab dan jangan menyebarkan sesuatu yang kita sendiri belum tahu kebenarannya,” ujarnya.
Menurut Cut Man, besarnya perhatian terhadap Mualem tidak terlepas dari posisinya sebagai pemimpin Aceh sekaligus figur yang memiliki kedekatan emosional dengan sebagian masyarakat. Karena itu, setiap langkahnya mudah menjadi perhatian, terutama ketika muncul di media sosial.
Namun, ia berharap perhatian publik terhadap Mualem tetap diarahkan kepada hal-hal yang lebih substansial, terutama pekerjaan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, menjaga perdamaian, meningkatkan kesejahteraan, serta memperkuat pembangunan Aceh.
“Yang paling penting bagi rakyat adalah bagaimana pemimpin menjalankan amanahnya. Dalam kehidupan pribadi tentu ada tanggung jawab dan aturan agama yang harus dijaga. Dalam pemerintahan juga ada amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat,” katanya.
Cut Man menilai perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam masyarakat demokratis. Yang tidak boleh hilang, kata dia, adalah rasa hormat dan persaudaraan sesama masyarakat Aceh.
Ia mengajak masyarakat tidak menjadikan media sosial sebagai ruang untuk saling mencaci, mempermalukan, atau menyebarkan kabar yang belum terverifikasi. Menurut dia, kebebasan berpendapat tetap harus berjalan bersama tanggung jawab moral.
“Jangan sampai karena perbedaan pandangan, kita kehilangan ukhuwah. Aceh memiliki sejarah panjang, adat yang kuat dan nilai keislaman yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Itu harus kita jaga bersama,” ujarnya.
Cut Man berharap polemik yang berkembang tidak mengganggu persatuan masyarakat Aceh. Ia mengajak publik memberikan ruang kepada Mualem untuk menjalankan tugasnya sebagai gubernur dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang menyangkut kepentingan rakyat.
“Jaga adab, jaga lisan, tabayun sebelum menyampaikan sesuatu dan jangan mudah menghakimi. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan kehilangan persaudaraan. Damai Aceh adalah milik kita bersama,” kata Cut Man. []
