Pengangkatan Sunnyl Iqbal sebagai Komisaris PGE Dinilai Sah dan Wajar, Ini Alasan Jubir Darat Aceh
ACEHANTARA.COM | BANDA ACEH – Ketua Jubir Darat Aceh, Musliadi yang akrab disapa Cut Abang, menyampaikan pandangan berbeda terkait keputusan Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf, yang mengangkat Sunnyl Iqbal sebagai Komisaris Utama PT Pema Global Energi (PGE). Menurutnya, kebijakan tersebut harus dilihat secara objektif dengan mempertimbangkan kapasitas, kepercayaan, serta kebutuhan kepemimpinan di tengah berbagai tantangan pembangunan daerah.
Cut Abang menegaskan, dalam perspektif sejarah dan nilai keislaman, pengangkatan orang terdekat dalam struktur pemerintahan bukanlah hal baru. Ia mencontohkan masa kepemimpinan Utsman bin Affan, yang dalam praktik pemerintahannya turut memberikan kepercayaan kepada sejumlah kerabat untuk menduduki posisi strategis. Langkah tersebut dilakukan dalam konteks perluasan wilayah kekuasaan Islam yang menuntut figur-figur terpercaya guna menjaga stabilitas dan efektivitas administrasi negara.

Beberapa tokoh yang diangkat pada masa itu antara lain Muawiyah bin Abu Sufyan sebagai Gubernur Syam, Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh sebagai Gubernur Mesir, Al-Walid bin Uqbah di Kufah, serta Marwan bin Hakam yang berperan sebagai sekretaris dan penasihat utama. Selain itu, Abdullah bin Amir juga dipercaya memimpin Basrah.
Ia mengakui bahwa kebijakan tersebut dalam sejarah sempat memunculkan dinamika politik yang dikenal sebagai Al-Fitnah al-Kubra. Namun demikian, menurutnya, setiap kebijakan harus dipahami sesuai konteks zamannya.
“Dalam kondisi tertentu, seorang pemimpin membutuhkan orang-orang yang memiliki loyalitas, integritas, dan kepercayaan tinggi untuk memastikan roda pemerintahan berjalan efektif,” ujar Cut Abang.
Lebih lanjut, ia menilai pengangkatan Sunnyl Iqbal juga perlu dilihat dari aspek kompetensi dan peran generasi muda Aceh. Memberikan ruang kepada generasi penerus untuk tampil dalam posisi strategis dinilai sebagai langkah penting dalam mendorong percepatan pembangunan daerah.
“Jika yang bersangkutan memiliki kapasitas dan mampu menjalankan amanah, maka hal itu adalah sesuatu yang wajar. Ke depan, kinerja yang akan menjadi ukuran utama, bukan sekadar asumsi,” tegasnya.
Cut Abang juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memberikan kesempatan dan dukungan kepada kepemimpinan Gubernur Aceh dalam menjalankan program pembangunan. Ia menilai, kepercayaan kepada figur-figur strategis, termasuk dari kalangan terdekat, merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas dan efektivitas pemerintahan.
“Ini menjadi momentum bagi generasi muda Aceh untuk menunjukkan kontribusi nyata. Kita harus melihatnya sebagai peluang untuk melahirkan pemimpin masa depan yang mampu membawa Aceh ke arah yang lebih baik,” pungkasnya.



