Dari Jepang hingga Tsunami Aceh, Ustaz Masrul di Rumah Aspirasi H. T. Ibrahim: Iman Lebih Kuat dari Segalanya
Acehantara.com | Aceh Besar – Rumah Aspirasi Anggota DPR RI, H. T. Ibrahim, tak sekadar menjadi tempat menampung keluhan rakyat. Di momentum buka puasa Ramadan, rumah itu berubah menjadi ruang penguatan iman dan solidaritas umat.
Dalam tausiyah yang menggugah, Ustaz Masrul Aidi menyinggung Jepang negara yang dikenal disiplin dan maju namun tetap rapuh ketika bencana besar datang bertubi-tubi.

“Disiplin itu penting. Sistem itu penting. Tapi ketika gempa dan musibah menghantam, yang menyelamatkan jiwa manusia adalah iman. Orang beriman punya sandaran, punya harapan, punya tempat kembali,” tegasnya.
Ia kemudian mengingatkan kembali luka sejarah Aceh saat tsunami meluluhlantakkan ribuan rumah dan memisahkan keluarga. Namun dari puing-puing itu, masyarakat bangkit karena memiliki keyakinan kepada Allah dan kekuatan silaturahmi.

Mengutip ayat dalam Al-Qur’an tentang pergiliran hari-hari antara kesulitan dan kemenangan, ia menegaskan bahwa musibah bukan akhir, melainkan ujian yang memurnikan keimanan.
“Allah memberi dua nikmat besar: menghilangkan lapar dan memberi rasa aman. Kalau dua ini hilang, manusia runtuh. Maka tugas kita adalah saling menguatkan,” ujarnya.

Sementara itu, H. T. Ibrahim menegaskan bahwa Rumah Aspirasi harus menjadi ruang kebersamaan, bukan sekadar simbol politik.
“Perjuangan bukan hanya soal kebijakan di Senayan. Perjuangan juga tentang menjaga silaturahmi, menguatkan masyarakat, dan hadir di tengah umat,” katanya.
Suasana buka puasa berlangsung khidmat dan penuh kehangatan. Di tengah hidangan sederhana, pesan yang menguat justru tentang hakikat dunia: sepanjang hari manusia menahan lapar, tetapi saat berbuka cukup dengan seteguk air dan beberapa suap makanan.
Ramadan, sebagaimana disampaikan Ustaz Masrul, adalah pengingat bahwa kekayaan bukan jaminan ketenangan. Yang membuat manusia kokoh adalah iman, solidaritas, dan kepedulian sosial.
Momentum di Rumah Aspirasi itu pun menjadi simbol bahwa kekuatan umat tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari kebersamaan dan keyakinan.[]



