Mualem Panen Padi di Lahan Bekas Bencana Aceh Tamiang
ACEHANTARA.COM | ACEH TAMIANG — Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem memanen padi di Desa Bukit Panjang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa, 13 Oktober 2026. Panen ini menandai pemulihan lahan pertanian yang sebelumnya rusak akibat bencana hidrometeorologi.
Lahan tersebut sebelumnya dipenuhi lumpur dan mengalami kerusakan akibat bencana. Pada Juli 2026, Sekretaris Daerah Aceh M. Nasir bersama Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi dan sejumlah pihak telah melakukan penanaman padi di lokasi yang sama.
Mualem bersyukur lahan yang sempat rusak kini kembali menghasilkan. Ia berharap petani di Aceh Tamiang dan daerah lain yang terdampak bencana segera bangkit dan kembali produktif.
Menurut Mualem, pemulihan pascabencana tidak hanya menyasar persawahan, tetapi juga berbagai sektor kehidupan masyarakat. Karena itu, ia meminta seluruh Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA), kementerian, dan lembaga memperkuat koordinasi.
Mualem juga mengapresiasi dukungan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman beserta jajaran, serta Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh dan kabupaten/kota dalam mempercepat pemulihan pertanian.
Dalam kegiatan tersebut, Mualem didampingi Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Azanuddin Kurnia. Ia juga menyerahkan satu unit traktor crawler kepada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mata Ie.

Bantuan dari Kementerian Pertanian itu diterima Ketua Gapoktan Mata Ie, Rubianto, disaksikan Wakil Bupati Aceh Tamiang Ismail, Datok Penghulu Kuta Panjang Abu Bakar Siddiq, serta sejumlah pejabat terkait.
Mualem berpesan agar bantuan tersebut dimanfaatkan dan dirawat bersama untuk mendukung produktivitas pertanian. Ia mengingatkan agar alat itu tidak dijual atau dialihkan kepada pihak lain.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh per 10 Oktober 2026, realisasi anggaran pemulihan sawah telah mencapai 56,7 persen. Tahap pertama mencakup 28.211 hektare, terdiri atas 23.818 hektare rusak ringan dan 4.393 hektare rusak sedang.
Pada kategori rusak ringan, sekitar 4.468 hektare telah ditanami dan 1.160 hektare telah dipanen. Sementara itu, pada kategori rusak sedang, sekitar 1.522 hektare telah ditanami dan 428 hektare telah dipanen.
Tahap kedua mencakup 12.641 hektare, terdiri atas 3.253 hektare penanganan melalui optimalisasi lahan dan 9.388 hektare rehabilitasi. Pekerjaan konstruksi tahap ini direncanakan dimulai pada pertengahan Oktober 2026.
Pemulihan juga mencakup infrastruktur pendukung pertanian. Progres pembangunan irigasi perpompaan mencapai 74,4 persen, irigasi perpipaan 88 persen, bangunan konservasi 71 persen, jaringan irigasi tersier 100 persen, dan jalan usaha tani 67 persen. Rata-rata progres kegiatan pendukung mencapai 80,8 persen.
Azanuddin mengatakan, sesuai arahan Gubernur, pemulihan sawah rusak ringan dan sedang ditargetkan selesai tahun ini. Adapun sekitar 16.283 hektare sawah rusak berat masih dalam proses pemutakhiran data bersama pemerintah kabupaten/kota untuk diajukan kepada Kementerian Pertanian, dengan harapan penanganan menyeluruh dapat direalisasikan pada 2027.
Wakil Bupati Aceh Tamiang Ismail mengapresiasi dukungan Pemerintah Aceh dan Kementerian Pertanian dalam rehabilitasi jaringan irigasi, irigasi perpipaan, serta irigasi pompa. Ia berharap perbaikan tersebut memudahkan petani mengolah lahan, meningkatkan hasil panen, dan memperkuat kesejahteraan masyarakat. Bagi petani yang sempat kehilangan harapan akibat bencana, kembalinya panen menjadi tanda bahwa kerja keras dan dukungan bersama dapat menghidupkan kembali sawah serta menggerakkan perekonomian keluarga.














